Catatan Hening (10)

16Jul08

Aku diam bukan bisu

Aku diam bukan enggan

Aku diam bukan tidak peduli

Aku diam bukan pengecut

Tapi

Diamku adalah kata-kataku

Diamku adalah keinginanku

Diamku adalah perasaanku

Diamku untuk bermakna

                   Laban, 12 Juni 2008

 

 

Kupilih kau bukan tanpa pilihan

Kupilih kau bukan tanpa tujuan

Padamu kusandarkan harapan

Padamu kusandarkan angan

Meski kian nyata adanya

Kau bukan pilihan terbaik

Tapi kuterima sebagai pilihan

Karena janji tidak bisa ditarik

Meski luka kian menganga

                   Laban, 12 Juni 2008

 

 

 

Ketika kata tidak lagi bermakna

Ketika maki kian menggema

Hati tidak lagi berkuasa

Hampa meraja

Kembalilah pada hening

Bicaralah dengan diam

Terang pun menjelang

                   Laban, 12 Juni 2008



4 Responses to “Catatan Hening (10)”

  1. Seperti tidak sedang hening, malah mencari-cari hening😀

    • 2 dayurai

      bener pak.. kadang saat hening pun kita masih mencari keheningan sebenarnya..

      • Terkadang, seiring kita “mengenal” keheningan, mungkin kita telah mulai kehilangannya, dan kita pun mencari-cari lagi.

      • 4 dayurai

        Ya.. keheningan kadang harus dicari, tapi tidak bisa diburu. Kadang sudah dikenali, tapi sulit dimiliki. Tapi tidak mustahil untuk mencari hening yang bening


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s


%d blogger menyukai ini: