Catatan Hening (7)

12Jun08

Sore ini saya musti entri data dokumen pengiriman barang. Karena anak saya pingin main di teras, akhrinya kerjaan saya kerjakan di teras. Sambil kerja, sambil nemenin anak main. Wow nikmatnya.

Sebentar kemudian, lewat di jalan depan rumah seorang Bapak tua penjual es jolly yang sedang menuntun sepeda usangnya berkeliling kampung menjajakan jualannya, es jolly dengan menggoyang-goyangkan lonceng besinya. Ting – ting – ting memanggil pembeli. Ya, Bapak ini bapak yang sama ketika dulu waktu kami masih kecil selalu dibuat menangis. Merengek pada ibu untuk dibelikan es jolly. Adik-adik saya bahkan dalam sehari bisa menikmati es jolly sampai dua atau tiga kali, tergantung berapa kali Bapak itu lewat jalan depan rumah kami.

Sekarang, kami sudah tumbuh dewasa, bahkan saya sendiri sudah berkeluarga dengan satu putri, sementara adik-adikku sudah lulus kuliah dan sudah bekerja dengan gaji yang lumayan. Tapi, Bapak itu masih saja berjualan es jolly dan dengan sepeda yang sama ketika kami jadi pelanggannya dua puluh tiga tahun lalu. Entah rela atau terpaksa.

Sejenak saya berpikir, betapa kami sangat beruntung telah berhasil mengubah jalan hidup kami menjadi lebih baik dari kehidupan yang musti dilalui orang tua kami waktu kami masih kecil.

Saya jadi teringat kata-kata ibu yang sering kali diucapkan ketika kami sedang putus asa dalam belajar. “Kalian harus sekolah. Biar orang tuamu hanya lulusan SD dan kerjanya macul di sawah, anak-anaknya harus sarjana supaya tidak jadi orang susah seperti bapak dan ibu.”

Saya tidak bisa membayangkan andai kami tidak disekolahkan oleh orang tua kami, mungkin sekarang ini kami harus memeras keringat di sawah berjibaku agar sawah kami menghasilkan panenan yang banyak. Menjalani kehidupan yang sama dengan orang tua kami pada waktu kami masih kecil. Mungkin saya tidak bisa menikmati enaknya kerja di rumah sambil bermain dengan anak saya, adik laki-laki saya mungkin tidak akan jadi seorang manajer diusia muda, dan adik perempuan saya tidak akan jadi dosen, cita-cita impiannya.

Memang sekolah tidak menjamin seseorang menjadi orang sukses, tapi setidaknya dengan bersekolah orang menjadi terdidik untuk bisa mengubah jalan hidupnya menjadi lebih baik.

Ah.. hidup kami lebih beruntung dari pada Bapak penjual es yang telah menjalani kehidupan yang sama selama lebih dari separoh umurnya.

  

 

 

 

 



No Responses Yet to “Catatan Hening (7)”

  1. Tinggalkan sebuah Komentar

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s


%d blogger menyukai ini: