Catatan Hening (4)

14Mar08

Aku marah. sangat marah..

Banyak sekali marahBertumpuk – tumpuk

 Menggunung , meruah

Tertimbun lagi, muncul lagi.

Kemana kan ku bawa marah ini? 

Apa ku timbun lagi saja?

Atau ku ledakkan saja, hingga semburat kemana – mana? 

Ah…akhirnya… meledak juga.                        

                                  Laban, Imlek 2008  

Matahari menjelang beri sedikit harap

Akankah bertahan hingga tiba senja nanti?

Semoga                       

                                    Laban, 9 Februari 2008  

Sekali lagi sang raja kecil berontak

Mencoba menunjukkan keinginannya

Tidak, aku tidak mau pergi ke rumah uti

Aku di rumah saja

Katanya sambil tetap duduk pongah diatas singgasana plastiknya

Ketika kami berdua beranjak meninggalkan rumah

Beraktivitas, bekerja mencari nafkah

Entah nafkah, atau pengakuan dunia.. entahlah.

 Suamiku sengaja menggodanya

Meninggalkannya sendiri, lalu ditutup pintu

Kami keluar

Tak kami sangka

Bukannya merengek menggedor pintu agar dibuka

Dan minta ikut, seperti biasa.

Ia lari kedalam kamar

Menelungkup, menangis menjerit

Bunda jangan kerja, bunda jangan kerja

Ayah saja.. karena aku tidak ada temannya.

Ku coba untuk membujuknya.

Tapi dia tidak mau, karena tas kerjaku masih diatas pundak

Menangis sejadi – jadinya

Aku mengalah, kulempar tas ke samping

Baru dia mau kugendong, ku bujuk bahwa aku tidak jadi kerja

Ah.. sambil terus menggelayut manja diatas pundak

Dia menangis sesenggukan.. lalu tertawa

Karena dia pikir dia telah berhasil mendapat keinginannya. 

Begitu sampai di rumah uti, masih enggan dia berpaling dariku

Sampai akhirnya dia pergi keluar karena ada teman kecilnya

Memanggil – manggil untuk bermain

Ya.. segera dia melupakan apa yang telah terjadi

Dia lupa bahwa dia telah membuat satu sisi hati begitu terluka

Sangat dalam hingga tak terucap

Maafkan bunda sayang, bunda harus bekerja

Bukan karena ayah tidak mampu tegakkan keluarga

Karena bunda ingin kita lebih tegak berdiri.                                    

                                            Laban, 9 Februari 2008



2 Responses to “Catatan Hening (4)”

  1. 1 jazz

    aduh koq sama ya, gimana caranya meredam sekaligus menghilangkan perasaan marah ini ya, terimakasih buat catatan heningnya, ya….ternyata di belahan dunia sana ada juga yang lagi marah 2, ada temennya hix hix hix, yukkkk cepetan minum air dingin yah………


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s


%d blogger menyukai ini: