Menguji Kesabaran dengan Bunga Wijaya Kusuma

16Jul08

Bunga wijaya kusuma kami akan berbunga untuk kesekian kalinya. Kelopak bunganya sudah menggembung, tinggal menunggu waktu untuk merebak.

Ada empat kuncup bunga, yang dua kuncup sudah mekar rabu malam kemarin. Tinggal dua kuncup lagi yang saya yakin pasti hari kamis malam ini.

 

Bunga ini memang kalau berbunga hanya pada malam hari dan mampu bertahan semalam. Karena itu kali ini saya pun bertekad ingin melihat lagi proses merekahnya kuncup – kuncup itu menjadi bunga yang indah, setelah sekian lama selalu “ditilap” sejak waktu pertama bunga kami mulai berbunga. Memang waktu pertama kali bunga yang kami tanam ini berbunga, kami sekeluarga sempat menunggui proses mekarnya kelopak hingga merekah dan menebarkan wanginya yang sempurna. Tapi setelah itu setiap kali tanaman ini berbunga kami selalu ketinggalan proses itu. Kami hanya dapati bunga yang sudah mekar, bahkan tak jarang pada pagi harinya kami dapati bunga yang sudah menutup kelopak layunya.

 

Pukul 18.15 WIB, saya berniat memanggil tukang pijat, tapi niat itu saya urungkan karena saya melihat kuncup-kuncup bunga wijaya kusuma kami mulai menggembung. Putri kami dan saya mengambil kursi dan duduk menghadap bunga itu, tapi setelah berlalu lima menit, putri saya merengek minta masuk kedalam rumah karena ingin bermain puzzle kayu. Saya pun membawa masuk tanaman dalam pot tersebut kedalam rumah. Sambil menemani si kecil main, mata saya tetap mengawasi perubahan yang terjadi pada kuncup itu.

 

Setengah jam berlalu tanpa tanda-tanda kuncup akan merekah. Hingga pukul 19.35WIB, satu kuncup mulai membuka ujung kuncupnya. Hati saya bergetar melihat kejadian itu.. Ya Tuhan indah sekali proses ini. Pukul 20.05 WIB ujung kuncup yang satunya membuka. Sambil berharap-harap cemas seperti menantikan kelahiran seorang bayi dan terus berusaha mati-matian untuk menahan kantuk yang menyerang sekaligus menghadapi rengekan putriku yang minta perhatian, sambil terus berusaha memetik kuncup-kuncup itu. Sampai akhirnya dia tertidur. Saya berusaha sabar menanti merebaknya kelopak kedua kuncup ini menjadi kuntum bunga yang sempurna mekarnya. Saya menguatkan diri, inilah saatnya melakukan ujian kesabaran.

 

Mulai dari ujung kuncup yang membuka dengan diameter 1cm, terus membuka perlahan – lahan sampai akhirnya pukul sepuluh malam tepat kedua kuncup itu merekah hampir bersamaan menebarkan wangi yang begitu harum dan keindahan yang begitu menakjubkan.

 

Ya Tuhan, bunga-bunga itu sangat indah dan harum. Rasanya “pengorbanan saya dan putri kami selama empat jam terbayar lunas. Beginikah rasanya kalau kesabaran dan usaha yang telah kita lakukan akhirnya membuahkan hasil. Kenikmatan yang tiada tara. You really get what you give.

About these ads


2 Responses to “Menguji Kesabaran dengan Bunga Wijaya Kusuma”

  1. saya suka tulisan yang ini…bunga wijayakusuma sudah mulai langka dijumpai, minimal di tempat saya tinggal


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s


Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: